Bengkulu, Perjalanan Menyusuri Bukit Barisan

Niat awal gua dan istri ke Bengkulu adalah mengunjungi kakak ipar & keponakan. Gua berpikir ini tidak akan lebih dari sekedar kunjungan silaturahmi. Pertama, Bengkulu bukan sebuah destinasi wisata yg mana provinsi ini tidak gencar melakukan promo potensi wisata daerahnya, ditambah lagi tidak banyak orang yang menceritakan pariwisata Bengkulu di dunia maya. Kedua, bulan Desember merupakan musim hujan disini. Dua alasan itu bikin gua gak berharap banyak kalo perjalanan ini bakal jadi sebuah perjalanan yg bisa diceritakan. Namun, ternyata yg terjadi disini diluar ekspektasi gua.

Walaupun ini kunjungan silaturahmi, tapi hobi traveling membuat gua tetap mencari-cari informasi tempat wisata. Pikir gua, paling gak ada waktu sehari buat jalan-jalan.

Dikarenakan kakak ipar gua tinggal di Arga Makmur Bengkulu Utara, gua hunting info lokasi wisata yg gak jauh-jauh dari situ. Pertimbangan gua adalah biar lebih banyak waktu sama keluarga. Dari hasil browsing, muncul nama Air Terjun Kokoi. Nanti gua ceritakan di postingan selanjutnya, yg jelas perjalanannya menuju kesini adalah yg paling asyik sekaligus paling melelahkan selama gua di Bengkulu.

Hari H, ternyata kami dijemput di bandara. Padahal tadinya kami mau naek angkot. Maklum, jiwa backpacker… Kalo ke tempat baru naek turun angkot aja udah berasa jalan-jalan. Hehehe… Namun setelah menyaksikan bahwa angkutan umum sangat jarang dan cuaca yg sangat panas siang itu, gua jadi merasa bersyukur.

Jika kebanyakan orang berkunjung ke pantai pada pagi dan sore hari, kami justru mengunjunginya pada tengah hari. Sekalian lewat singgah sebentar di Pantai Panjang Gading Cempaka, pantai yg sesuai namanya membentang sepanjang kota Bengkulu. Panas terik gak begitu terasa ketika pegang kamera dan beruntungnya kami pantai agak sepi di siang hari, jadi kami gak keganggu orang yg lalu lalang ketika sedang berfoto. Hahaha…

Sebelum menuju ke Arga Makmur kami juga menyempatkan diri mampir ke Benteng Marlborough dan spot yg paling bikin betah : tukang duren! Yup, Bengkulu ini bisa dibilang surganya duren. Duren melimpah ruah disini dan otomatis harganya juga jadi murah, kisaran lima ribu sampai dua puluh ribu rupiah. Hmmm… Kalo mau ngirit bisa jadi makanan pokok pengganti nasi neh duren gocengan.

Hari-hari berikutnya selain selalu diisi dengan makan duren, kami juga selalu berwisata. Ini dia nih yg gak ada di pikiran gua sebelumnya. Gua awalnya membayangkan kalo disini gua hanya bakalan keliling-keliling desa, muterin sawah, tanem sayuran, nyadap getah karet, ngangkut kelapa sawit, dsb. Ternyata eh ternyata gua jalan-jalan juga! Berturut-turut offroad di Air Terjun Kokoi (destinasi paling seru di Bengkulu), trekking mencari bunga rafflesia di Palak Siring Kemumu, mencoba merasakan mabuk Kepahiang ketika hendak menuju Curup, kota dengan ex-rumah-rumah panggung di pinggir jalannya dan mandi air panas plus diwawancarai Metro TV di Pemandian Air Panas Suban. Bisa dibilang perjalanan kali ini adalah menyusuri Bukit Barisan. Sayangnya, gua gak sempet mengunjungi Desa Kumayan dikarenakan sedang dalam situasi siaga satu setelah diserang oleh pasukan Hangcinda.

 

@ Koordinat

  • Pantai Panjang Gading Cempaka : -3.83199, 102.28303
  • Benteng Marlborough : -3.78691, 102.25158
  • Air Terjun Kokoi : -3.40521, 102.23389
  • Palak Siring Kemumu : -3.41388, 102.28081
  • Pemandian Air Panas Suban : -3.46202, 102.56984




BENGKULU

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.